Marhum Pekan: Sang Panglima Penakluk VOC yang Melahirkan Kota Pekanbaru

SCN | PEKANBARU - Tak banyak sosok dalam sejarah Nusantara yang memiliki karier sedemikian panjang dan krusial seperti Tengku Muhammad Ali. Selama hampir 40 tahun, ia menjadi jangkar bagi Kesultanan Siak Sri Indrapura, berpindah dari satu palagan perang ke palagan lainnya, hingga akhirnya meletakkan fondasi bagi sebuah kota yang kini menjadi jantung Provinsi Riau: Pekanbaru.

Panglima Tak Terkalahkan di Perang Guntung
Sebelum menjadi raja, Tengku Muhammad Ali adalah panglima besar yang disegani. Di bawah asuhan pamannya, Sultan Tengku Buwang Asmara, ia ditempa menjadi ahli strategi perang. Puncak kegemilangannya terjadi pada Perang Guntung (1752).

Sebagai pemegang tongkat komando utama, ia memimpin pasukan Siak menghancurkan Loji Belanda di Guntung. Serangan itu begitu dahsyat hingga nyaris tak ada serdadu VOC yang tersisa hidup. Keberaniannya kembali teruji pada Perang Mempura (1760). Meski Belanda menyerang dengan kapal perang raksasa, Muhammad Ali mengobarkan semangat "Jihad fi Sabilillah" kepada pasukannya. Dengan hanya menggunakan rakit api dan mesiu, mereka berhasil menenggelamkan kapal-kapal Belanda dan memaksa penjajah mundur teratur.

Sultan ke-5 yang Menolak Takhta demi Kedamaian
Naik takhta pada tahun 1766 dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, masa kepemimpinannya dipenuhi dengan tantangan stabilitas internal. Namun, yang paling mengagumkan dari sosoknya bukanlah saat ia berkuasa, melainkan saat ia memilih untuk mengalah.

Ketika sepupunya, Sultan Ismail, datang menuntut kembali takhta pada 1779, Muhammad Ali memilih menghindari pertumpahan darah saudara. Ia turun takhta secara terhormat dan kembali mengabdi sebagai Panglima Besar serta Yang Dipertuan Tua. Bahkan, saat para pembesar istana ingin mengangkatnya kembali menjadi sultan karena menganggap pemimpin baru lemah, ia menolak dengan tegas.

"Bagai menarik rambut di dalam tepung, rambut tidak boleh putus, tepung tidak boleh berserak."

Petuah dari adiknya itu dipegang teguh. Ia lebih memilih mendukung keponakannya, Sayyid Ali (Sultan Syarif Ali), demi keutuhan kerajaan.

Melawan Monopoli Belanda Lewat Ekonomi
Strategi Muhammad Ali berubah dari senjata ke diplomasi ekonomi. Atas saran ayahnya dan para ulama, ia memahami bahwa untuk mengalahkan Belanda, ia harus mematikan jalur ekonomi mereka.

Ia memilih Senapelan sebagai lokasi strategis. Di sana, ia membangun sebuah "Pekan" atau pasar. Berbeda dengan pasar Belanda yang penuh pajak dan monopoli, pasar yang dibangun Muhammad Ali menerapkan aturan yang adil:

Tanpa Pajak: Pedagang bebas berjualan tanpa pungutan.

Etika Islam: Melarang keras riba, penipuan timbangan, dan barang haram.

Keadilan Lapak: Siapa yang datang lebih pagi, ia berhak atas tempatnya hingga matahari terbenam.

Hasilnya luar biasa. Para saudagar dari berbagai penjuru beralih ke Senapelan. Bisnis Belanda di Mempura mati kutu karena kehilangan pelanggan.

Lahirnya Nama "Pekanbaru"
Pasar di Senapelan berkembang begitu pesat hingga orang-orang menyebutnya "Pekan Baharu" (Pasar yang Baru). Secara resmi, bandar niaga ini didirikan pada 23 Juni 1784, sebuah tanggal yang hingga kini dirayakan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru.

Tengku Muhammad Ali wafat pada tahun 1791. Ia dimakamkan di komplek pemakaman Senapelan dan diberi gelar anumerta Marhum Pekan—sang arsitek yang mengubah sebuah kampung kecil menjadi bandar perniagaan besar yang kini menjelma menjadi metropolitan.

Sumber: Wikipedia

Tags :Senibudpar
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait