Aktifitas PETI Langgeng di Peranap, Diduga Aparat Terima Upeti, Aktivis Lingkungan Minta Kapolda Riau Turun Tangan 

SCN | INHU- Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, kembali menjadi sorotan. Di tengah gencarnya kampanye Green Policing oleh Herry Heriawan, fakta di lapangan justru menunjukkan dugaan praktik yang berlawanan.

Aktivis lingkungan Riau, Tio Afrianda, mengungkap adanya indikasi kuat pembiaran hingga dugaan praktik setoran yang melibatkan oknum aparat di wilayah tersebut.

“Kalau ratusan rakit PETI bisa beroperasi terang-terangan di sepanjang Sungai Batu Rijal, ini bukan lagi soal kelalaian. Ini patut diduga ada sistem yang bekerja,” tegas Tio, Kamis (19/3/2026).

Ratusan Rakit Beroperasi, Aparat Diduga Tutup Mata

Bermula dari kiriman video dan foto yang diterima pada Minggu (15/3), Tio mendapati aktivitas ratusan rakit PETI yang bekerja aktif di aliran Sungai Batu Rijal. Aktivitas tersebut berlangsung terbuka dan masif.
Ia kemudian mencoba mengonfirmasi langsung kepada Kapolsek Peranap, IPTU Yopi Ferdinan. Namun, upaya tersebut tidak mendapat respons.

Tak lama berselang, sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Penelepon mengaku sebagai Kanit Reskrim Polsek Peranap.

Dalam percakapan itu, Tio secara langsung mempertanyakan bagaimana aktivitas ilegal dalam skala besar tersebut bisa berjalan tanpa penindakan.
Respons yang diterima, menurut Tio, justru normatif.

“Saya baru pulang pelatihan, nanti segera ditindak,” ujar Kanit tersebut, sebagaimana ditirukan Tio.

Namun, bagi Tio, jawaban itu tidak menjawab substansi persoalan.

Dugaan Adanya “Pengurus” dan Jalur Koordinasi

Keesokan harinya, Senin pagi (16/3), Tio kembali dihubungi oleh seseorang yang mengaku sebagai “pengurus PETI” di wilayah Batu Rijal.

"Saya Mustopo Batu Rijal, disuruh pak Kanit hubungi Abg, disini gak sampai 300 rakitnya Bang, cuman 150 an"

Pernyataan tersebut menjadi titik krusial. Sebab, keberadaan “pengurus” mengindikasikan adanya struktur dalam aktivitas ilegal tersebut.

“Dari situ saya mulai melihat ada pola. Tidak mungkin aktivitas sebesar itu berjalan tanpa koordinasi yang rapi,” ungkapnya.
Lebih jauh, komunikasi itu juga mengindikasikan bahwa informasi yang disampaikan Tio kepada aparat justru sampai kepada pihak pengelola PETI.

Indikasi Pungutan: Rp200 Ribu per Rakit

Kecurigaan semakin menguat ketika pada Selasa (17/3), Tio memperoleh informasi dari sumber lain di lapangan. Sumber tersebut menyebut adanya pungutan terhadap para pekerja PETI di hari itu.
Besaran pungutan disebut mencapai Rp200 ribu per rakit, yang diklaim diperuntukkan bagi oknum aparat.

“Biasanya pungutan dilakukan rutin pada hari sabtu, tapi tumben hari ini bang, katanya untuk polisi. Ini menimbulkan pertanyaan besar,” ujar Tio.

Jika informasi ini benar, maka praktik tersebut mengarah pada dugaan sistematis—bukan sekadar pembiaran, melainkan relasi yang saling menguntungkan.

Bukti Terus Masuk, Respons Tetap Normatif
Pada Rabu (18/3), Tio kembali menerima video terbaru yang menunjukkan aktivitas PETI masih berlangsung tanpa gangguan.
Bukti tersebut kembali ia kirimkan kepada Kanit Reskrim Polsek Peranap. Namun, respons yang diterima hanya sebatas ucapan singkat: “ok, Terima kasih atas informasinya.”

Tidak ada tanda-tanda penindakan konkret di lapangan.

Ujian Nyata “Green Policing”

Rangkaian peristiwa ini, menurut Tio, menjadi ujian serius bagi komitmen Green Policing yang selama ini digaungkan oleh Polda Riau.
Ia pun secara terbuka menantang Kapolda Riau untuk mengambil langkah tegas, bukan sekadar retorika.

“Ini bukan soal citra. Ini soal keberanian membersihkan institusi. Kalau benar ada oknum yang bermain, harus ditindak tanpa kompromi,” tegasnya.

Tio juga mengingatkan pernyataan Kapolri tentang pentingnya integritas dalam tubuh kepolisian.
“Jangan sampai kita membersihkan rumah dengan sapu yang kotor. Kalau penegak hukum justru terlibat, lalu siapa yang tersisa untuk menegakkan hukum?” pungkasnya.

Untuk perimbangan pemberitaan, Media ini melakukan konfirmasi kepada Kapolsek Peranap dan Kasat Reskrim melalui saluran whatshap, Hingga berita ini ditayangkan keduanya masih memilih bungkam.(red)

Tags :Peristiwa
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait